11 Juni 2012

2. 5 Laut, Pesisir dan Pantai


Kabupaten Tanjung Jabung Timur merupakan kabupaten dengan wilayah perairan terluas di provinsi Jambi dan mempunyai pentai terpanjang yaitu 561,36 Km dengan jumlah pulau kecil sebanyak 24 buah. Luas wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur dengan memasukan wilayah periaran kedalamnya adalah seluas 17.791,82 Km2. Kabupaten ini yang menghadap ke laut lepas dapat menambah keunggulan dalam kemudahan transportasi dalam hal ekspor dan impor.
Dengan kondisi dan posisi yang sangat strategis, maka Kabupaten Tanjung Jabung Timur memiliki potensi yangs angat besar dalam bidang kelautan dan perikanan. Sungai-sungai yang melintasi wilayah ini membuat potensi penagkapan perairan umum juga bertambah dengan penagkapan ikan di sungai. Selain potensi penagkapan yang besar, kabupaten ini memliki rawa dan pantai juga sangat berpotensi dalam hal budidaya perikanan. Tambak, kolam dan keramba juga dikembangkan oleh penduduk kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Selain memliki potensi, wilayah pesisir dan luat juga didukung oleh sarana-sarana lainnya yang meliputi balai benih ikan (BBI) yang terdapat di Kecamatan Muara Sabak Timur dengan jumlah 1 unit, dan pasar benih ikan (PE3I) yang terdapat di Kecamatan Kuala Jambi sebanyak 1 Unit, Cold Storage terapat di Kecamatan Mendahara dan Kuala Jambi, pabrik Es terdapat di kecamatan Mendahara, Muara Sabak timur Nipah Panjang dan Sadu sebanyak 6 unit.
Berikut ini isu lingkungan kritis pengelolaan pesisir dan laut di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Isu ini berdasarkan isu strategis yang telah dianalisis pada SLHD 2008 dan 2009, kemudian dijadikan dasar untuk menganlisis pada SLH 2011. Adapun isu lingkungan kritis tersebut adalah :
1.      Kerusakan            mangrove akibat pengalihan fungsi lahan untuk peruntukan kepentingan lainnya
2.      Kerusakan terumbu karang akibat sistem penangkapan yang tidak ramah lingkungan
Kabupaten Tanjung Jabung Timur memiliki wiilayah pesisir dan laut dengan potensi kelautan yang melimpah. Kekayaan ikan dan spesies laut, rumput laut, terumbu karang merupakan potensi besar yang telah memberikan manfaat bagi penduduk sekitar khususnya maupun bagi perekonomian Kabupaten Tanjung Jabung Timur umumnya.
Pemanfaatan yang kurang memperhatikan linkungan pada akhirnya akan menyebabkan kerusakan yang sulit untuk dipulihkan kembali . Untuk lebih jelasnya mengenai kondisi wilayah pesisir dan laut Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dapat dililihat penjelasan mengenai :
1.    Kondisi Mangrove
Hutan mangrove adalah sebutan untuk sekelompok tumbuhan yang hidup di daerah pasang surut pantai. Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen, atau juga hutan payau. Kita sering menyebut hutan di pinggir pantai tersebut sebagai hutan bakau. Sebenarnya, hutan tersebut lebih tepat dinamakan hutan mangrove. Istilah 'mangrove' digunakan sebagai pengganti istilah bakau untuk menghindarkan kemungkinan salah pengertian dengan hutan yang terdiri atas pohon bakau Rhizophora spp. Karena bukan hanya pohon bakau yang tumbuh di sana. Selain bakau, terdapat banyak jenis tumbuhan lain yang hidup di dalamnya.
Ciri-ciri terpenting dari penampakan hutan mangrove, terlepas dari habitatnya yang unik, adalah :
·       memiliki jenis pohon yang relatif sedikit;
·       memiliki akar tidak beraturan    (pneumatofora) misalnya seperti jangkar melengkung dan menjulang pada bakau Rhizophora spp., serta akar yang mencuat vertikal seperti pensil pada tumbuhan pidada Sonneratia spp. dan pada api-api  Avicennia spp.;
·       memiliki biji (propagul) yang bersifat vivipar atau dapat berkecambah di pohonnya, khususnya pada Rhizophora; memiliki banyak lentisel pada bagian kulit pohon. Sedangkan tempat hidup hutan mangrove merupakan habitat





Tabel 2.11
Luas dan Kerapatan Hutan Mangrove
Kabupaten Tanjung Jabung Timur
Tahun 2011







No
Lokasi
Luas Lokasi (ha)
Persentase tutupan (%)
Kerapatan (pohon/ha)
1
Mendahara
                           4.174
30
1.750
2
Mendahara Ulu
                                  -
-
-
3
Geragai
                                  -
-
-
4
Dendang
                                  -
-
-
5
Muara Sabak Barat
                                  -
-
-
6
Muara Sabak Timur
                           4.013
42
2.100
7
Kuala Jambi
                           1.073
20
1.633
8
Rantau Rasau
                                  -
-
-
9
Berbak
                                  -
-
-
10
Nipah Panjang
                           4.943
34
1.941
11
Sadu
                           4.013
30
1.750
Total
18213,2
80 %
4000-6000
Keterangan





Sumber
:
Dinas Kelautan dan Perikanan Kab Tanjung Jabung Timur, 2010

yang unik dan memiliki ciri-ciri khusus, diantaranya adalah
·      tanahnya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari atau hanya tergenang pada saat pasang pertama;
·      tempat tersebut menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat;
·      daerahnya terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat;
·     airnya berkadar garam (bersalinitas) payau (2 - 22 o/oo) hingga asin.

Berbagai laporan dan publikasi ilmiah menunjukkan bahwa hutan mangrove ditemukan hampir disetiap. propinsi di Indonesia.
Di Provinsi Jambi sendiri hutan mangrove hanya terdapat di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Dan Tanjung Jabung Barat. Berdasarkan dari infrormasi Dinas Kehutanan Provinsi Jambi penanaman hutan mangrove sendiri sudah berkembang sejak lama sebelum tahun 2000 dan pada tahun 2005-2006 melalui program GNRHL GERHAN (Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan) telah dilakukan penanaman jenis tanaman mangrove di wilayah Provinsi Jambi. Berdasarkan data tahun 2004 -2007 rehabilitasi hutan mangrove di Provinsi jambi mencapai 175 Ha dan salah satunya adalah di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Selain itu berdasarkan hasil LPI (Lembaga Penilai Independen) tahun 2007 menunjukan bahwa kinerja dari GNRHL tersebut untuk wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur hanya tumbuh mencapai angka <50% Ini menunjukan bahwa tanaman yang tumbuh diwilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur hanya tumbuh <50% sedangkan untuk jenis mangrove sendiri kurang dari 45%. Hal tersebut diakibatkan oleh kurangnya pengawasan terhadap proses penanaman dan yang paling penting adalah kurangnya pemeliharaan pasca penanaman.
Hutan mangrove yang terdapat di Kabupaten Tanjung Jabung Timur terdapat di Kecamatan Nipah Panjang, Kecamatan Muara Sabak Timur, Kecamatan Kuala Jambi dan Kecamatan Mendahara Ilir relative kecil.
Flora mangrove terdiri atas pohon, epipit, liana, alga, bakteri dan fungi. Menurut Hutching dan Saenger (1987) telah diketahui lebih dari 20 famili flora mangrove dunia yang terdiri dari 30 genus dan lebih kurang 80 spesies. Sedangkan jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan di hutan mangrove Indonesia adalah sekitar 89 jenis, yang terdiri atas 35 jenis pohon, 5 jenis terna, 9 jenis perdu, 9 jenis liana, 29 jenis epifit dan 2 jenis parasit (Soemodihardjo et al, 1993).
 Kelompok flora mangrove di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dibagi menjadi tiga yang meliputi :
1.            Flora mangrove mayor (flora mangrove sebenarnya), yakni flora yang menunjukkan kesetiaan terhadap habitat mangrove, berkemampuan membentuk tegakan murni dan secara dominan mencirikan struktur komunitas, secara morfologi mempunyai bentuk-bentuk adaptif khusus (bentuk akar dan viviparitas) terhadap lingkungan mangrove, dan mempunyai mekanisme fisiologis dalam mengontrol garam
2.     Flora mangrove minor, yakni flora mangrove yang tidak mampu membentuk tegakan murni, sehingga secara morfologis tidak berperan dominan dalam struktur komunitas
3.     Asosiasi mangrove
Flora mangrove umumnya di lapangan tumbuh membentuk zonasi mulai dari pinggir pantai sampai pedalaman daratan. Zonasi di hutan mangrove mencerminkan tanggapan ekofisiologis tumbuhan mangrove terhadap gradasi lingkungan. Zonasi yang terbentuk bisa berupa zonasi yang sederhana (satu zonasi, zonasi campuran) dan zonasi yang kompleks (beberapa zonasi) tergantung pada kondisi lingkungan mangrove yang bersangkutan. Beberapa faktor lingkungan yang penting dalam mengontrol zonasi adalah :
·            Pasang surut yang secara tidak langsung mengontrol dalamnya muka air (water table) dan salinitas air dan tanah. Secara langsung arus pasang surut dapat menyebabkan kerusakan terhadap anakan.
·            Tipe tanah yang secara tidak langsung menentukan tingkat aerasi tanah, tingginya muka air dan drainase.
·            Kadar garam tanah dan air yang berkaitan dengan toleransi spesies terhadap kadar garam.
·            Cahaya yang berpengaruh terhadap pertumbuhan anakan dari
species intoleran seperti Rhizophora, Avicennia dan Sonneratia.
·            Pasokan dan aliran air tawar

Selain flora, Ekosistem mangrove merupakan habitat bagi berbagai fauna, baik  fauna khas mangrove maupun fauna yang berasosiasi dengan mangrove

Gambar 4
Hutan Mangrove
 
2.    Kondisi Padang Lamun
Padang Lamun di  kab. Tanjung Jabung Timur hampir dikatakan  tidak ada  mengingat pantainya berlumpur  dimana tingkat sedimentasi cendrung naik setiap tahunnya, belum ada instansi yang melakukan pengukuran
»»  SELANJUTNYA...

2. 4 Udara


Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam difusi zat pencemar yaitu yang berhubungan dengan atmosfer dan fotografik lingkungannya. Faktor-faktor tersebut adalah Kabupaten Tanjung Jabung Timur merupakan wilayah dengan morfologi wilayah datar sampai bergelombang dan berbukit dimana secara umum wilayah ini berbatasan dengan laut cina selatan dan dipengaruhi oleh pasang surut. Suhu udara seperti halnya wilayah-wilayah pesisir lainnya kabupaten Tanjung Jabung Timur memiliki suhu udara yang relative cukup panas dengan suhu udara minimum sebesar 290C.
Kualitas udara, di Kabupaten Tanjung Jabung Timur cenderung tidak berubah dari tahun ke tahun. Di Kabupaten ini jumlah hari dengan kualitas udara kategori baik  lebih dari 70 persen. Pemantauan kualitas udara di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dilakukan bekerjasama dengan BLHD provinsi Jambi dan Pusarpedal (Pusat Sarada pengendalian Dampak Lingkungan) Serpong Tangerang memberikan bantuan dan kerjasama dalam hal pemantauan udara ambient, tetapi sampai laporan SLHD ini dibuat hasil dari pemantauan udara ambien belum diterima dario Pusarpedal tetapi dari BLHD Provinsi Jambi telah dikirimkan hasilnya. Secara umum udara ambient di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dapat disimpulkan hasil pemantauan memiliki mutu yang baik .
Kualitas udara juga dapat dilihat dari derajat keasaman air hujan. Dari hasil pemantauan secara nasional secara umum menunjukkan bahwa hujan asam sudah terjadi di seluruh wilayah Indonesia termasuk Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Kemungkinan penyebabnya adalah karena meningkatnya konsumsi batubara untuk kegiatan industri dan pembangkit tenaga listrik tenaga uap (PLTU).
Keberadaan gas rumah kaca di atmosfir juga dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) secara nasional.
Konsentrasi CO2 yang diukur di salah satu stasiun di sumatera cenderung meningkat pada periode 2004 - 2008. Sedangkan konsentrasi CH4 berfluktuasi antara 1.805 ppm - 1.809 'ppm pada periode yang sama. Demikian pula halnya dengan konsentrasi Ozon Total yang berfluktuasi antara 230 DU - 275 DU.
Menurunnya kualitas udara terutama disebabkan oleh penggunaan energi fosil dan biomasa oleh sektor rumah tangga, industri dan transportasi. Konsumsi energi dari ketiga sektor tersebut diperkirakan mencapai 851 juta SBM (setara barel minyak) pada tahun 2008.
Ambang batas yang ditetapkan di dalam baku mutu kualitas udara ditentukan berdasarkan kajian mendalam hasil studi-studi hubungan dosisrespons (dose-response) antara konsentrasi pencemar tertentu dan tingkat respons yang dirasakan oleh reseptor; contohnya konsentrasi pencemar yang dapat menyebabkan simptom gangguan kesehatan pada sistem atau organ manusia (misalnya gangguan pada jantung atau sistem pernafasan) atau kerusakan yang dapat dilihat pada daun-daunan tanaman.
Dampak kesehatan dan dampak lingkungan yang terjadi tergantung pada besarnya konsentrasi pencemar di udara ambien. Bila memungkinkan, pengukuran dampak dilakukan pada reseptor, tetapi pengukuran secara langsung tersebut umumnya cukup rumit dan membutuhkan biaya tinggi bila dibandingkan dengan pengukuran tingkat konsentrasi pencemar di udara ambien.
Perkiraan besarnya dampak yang terjadi diprediksi dengan melihat hubungan statistik antara konsentrasi di udara ambien dengan respons gangguan kesehatan berdasarkan studi-studi dosis-respons. Oleh sebab profit pemantauan pencemar di udara ambien sangat penting untuk rnengevaluasi tingkat konsentrasi yang terpajan pada reseptor. Data tersebut kemudian digunakan untuk mengevaluasi dan mengestimasi besaran dampak kesehatan dan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh pencemar tertentu.
Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi. Kualitas udara ambient yang dilakukan mewakili empat kriteria yaitu daerah Industri, di kecamatan Geragai,  pemukiman, transportasi, dan perkantoran di Kecamatan Muara Sabak Barat ,  secara .umum hasil pemantauan udara ambient berada dibawah standar baku mutu kualitas udara, kecuali tingkat kebisingan industry yang mencapai angka 74,6 dB dimana standar baku mutu kebisingan yaitu 70 dB.
»»  SELANJUTNYA...

8 Juni 2012

2.3.2.4 Air Sumur


Air bersih merupaka factor permasalahan utama di kabupaten ini, dimana sampai saat ini ketersediaan air bersih yang memadai sampai saat ini sangat terbatas sekali serta jumlah pengelolaan air bersih yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah secara umum hanya mampu melayani sebagian kecil dari masyarakat. Air hujan dan air sungai menjadi prioritas pemenuhan kebutuhan akan air bersih.
Pada tahun 2011 tidak dilakukan pemantauan untu air sumur karena tidak tersedia dana untuk kegiatan tersebut telah dilakukan uji sampling terhadap beberapa sample air baik  embung maupun air sumurpada tahun 2010 . Dimana, untuk air embung dilakukan uji sample sebanyak 2 lokasi, dan air sumur sebanyak 6 lokasi.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut secara umum dapat disimpulkan bahwa kualitas air baik  air embung/danau maupun air sumur tidak mamadai untuk konsumsi namun untuk keperluan MCK masih dapat digunakan.
Kualitas air sumur yang ada secara fisik hamper sama dengan kondisi air embung lainnnya dimana pada kualitas air sumur juga secara fisik berwarna, dan berbau serta banyak mengandung (Fe) besi bahkan lebih banyak lagi dari kualitas air embung kandungan Fe nya.
Kabupaten Tanjung Jabung Timur merupakan kabupaten yang terletak pada wilayah pesisir laut dimana secara umum aktivitas wilayah ini banyak dipengaruhi oleh kegiatan bahari/kelautan, perkebunan khasnya wilayah pesisir serta pola permukiman khas wilayah pesisir.
Kabupaten ini memiliki sungai-sungai besar dan beberapa anak sungai maupun parit-Parit yang secara umum kegiatan ini dipengaruhi oleh aktivitas pasang surut.
Berdasar kepada pengaruh aktivitas terhadap kabupaten ini, tentunya permasalahan besar timbul karena ada pengaruh dari hulu dan hilir. Aktivitas tersebut secara umum belum begitu signifikan meskipu gejala-gejala kerusakan lingkungan secara berangsur-angsur mulai menunjukan. Pembangunan disatu sisi berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan jumlah penduduk yang terus meningkat, akan tetapi benyak hal yang menjadi tekanan yang diantaranya pemenuhan kebutuhan air bersih yang sampai saat ini menjadi isseu permasalahan utama bagi kabupaten ini.
Berdasarkan uraian diatas tentunya tekanan besar bagi kawasan yang memiliki 2 pengaruh baik  aktivitas dari hulu maupun aktivitas dari hilir. Dengan demikian pemerintah daerah beserta instansi berwenang tentunya harus bekerja keras agar supaya kedepannya yang berkaitan dengan lingkungan hidup dapat teratasi.
Berdasarkan kondisi diatas, sebagai respon terhadap permasalahan-permasalahan kebutuhan air bersih maka dalam hal ini kebijakan-kebijkan penting terkait dengan lingkungan hidup kedepannya harus menjadi prioritas utama karena menyangkut hajat hidup orang banyak.
Dengan demikian sebagai upaya pemenuhan kebutuhan air bersih seperti telah dijelaskan sebelumnya daJarn UU RI Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, maka regulasi-regulasi yang ada perlu diterapkan dalam penyusunan kebijakan pembangunan daerah yang berbasis keberlanjutan dan mengutamakan kelestarian lingkungan hidup.
Agenda atau program-program yang diusulkan dalam menanggulangi menurunnya kualitas air adalah sebagai berikut :
1.         Kebijakan Pemanfaatan dan pengendalian penataan ruang sesuai dengan UU yang berlaku serta regulasi-regulasi lainnya terkait dengan sumberdaya air perlu diperjelas.
2.         Kegiatan reboisasi hutan melalui penanaman pohon-pohon yang memiliki sifat konservatif.
3.         Pemantaun kualitas air secara intensif dan berkelanjutan serta memperhatikan indikasi-indikasi yang mempengaruhi.
4.         Sosialisasi intensif kedapa masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah daerah melalui instansi-instansi yang terkait beserta lembaga-lembaga pemerhati lingkungan lainnya.
5.          Khsusunya dalam pemenuhan kebutuhan air bersih, perlu adanya kajian khusus yang dilakukan oleh kantor Pengendalian dampak dan Lingkungan Hidup, serta Dinas ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral ) terkait dengan sumber-sumber air bersih baru beserta system pengelolaannya.
»»  SELANJUTNYA...

2.3.2.3 Air Embung


Embung seperti telah dijelas kan sebelumnya memiliki fungsi sebagai cadangan penyimpanan kebutuhan air. Tetapi dengan tidak tersedianya dana untuk pemantauan kualitas air embung tidak dapat dilakukan sampling.
Kualitas air embung/danau yang berlokasi di kawasan perkantoran Kabupaten Tanjung Jabung Timur, tepatnya di Belakang Kantor Bupati pada tahun 2010 dilakukan pemantauan, secara umum berdasarkan hasil pengamatan memiliki kualitas yang kurang baik  dimana kondisi air secara fisik berwarna agak kekuning-kuningan karna banyak mengandung (Fe) besi, serta berbau.
Berdasarkan hasil pengamatan lainnya seperti di lokasi sampling disekitar Kantor Bappeda Kabupaten Tanjung Jabung Timur memiliki karakteristik yang sama yaitu kualitas air banyak dipengaruhi oleh (Fe) besi sehingga kondisi air secara fisik sama seperti halnya lokasi sampling yang pertama.
»»  SELANJUTNYA...

2.3.2.2 Air Hujan


Pada tahun ini tidak dilakukan pemantauan terhadap kualitas air hujan yang  oleh Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan Kabupaten Tanjung Jabung Timur karena keterbatasan dana .
»»  SELANJUTNYA...